
Kita Geng Okeh!
April 30, 2014
SAYA DAN AWAK....

April 27, 2014

Besarnya dugaan orang lelaki nak meminang anak dara orang.
Budak-budak lelaki yang cuma nak main-main, couple
suka-suka, takkan lalui benda ni sebab ketidakmatangan mereka menghalang
sel-sel otak mereka berhubung dari memikirkan persediaan ke arah nikah.
Hanya orang yang betul-betul serius akan memahami apa erti kesusahan di alam perkahwinan.
Bila betul-betul serius suka. Betul-betul nak
kahwin. Andai bernasib baik jumpa mentua yang betul-betul Islamik, anda tidak
akan mengalaminya. Insya-Allah.
Namun, jika kurang bernasib baik, lelaki akan ditanya
bakal mentuanya seperti ini.
"Kamu kerja apa? Masih belajar? Bila nak
habis? Lama lagi? Lulusan diploma? Degree? Master or PhD?"
"Berapa tahun kerja?"
"Kerajaan or swasta?"
"Tetap or sementara or kontrak?"
"Gaji sebulan berapa?"
"Kerja kamu ini apa masa depannya? Ada kenaikan
gaji? Ada bonus? Elaunnya bagaimana?"
"Pergi kerja dengan apa? Kereta? Motosikal?
LRT? Tumpang kawan?"
"Rumah sendiri or rumah sewa? Nanti dah nikah
nak tinggal mana?"
"Agak-agak bila nak nikah? Persediaan macam
mana?"
"Mampu tanggung anak kami macam kami
tanggung?"
Fuh. Nasib la sesiapa yang mengalami situasi sebegitu.
Berpeluh sampai ke tumit juga la nak menjawab soalan macam
ni. Dengan gemuruh lagi, ketar satu badan, maklumlah bakal mertuakn.
Jika jawapan yang kamu berikan adalah,
"Baru kerja. Bukan kerajaan. Belum dapat status
tetap or berpencen. Gaji masih peringkat starting tak sampai 1.5K sebulan. Tak
sure masa depan syarikat tempat kerja, maybe short-term dan kena cari kerja
lain yang lebih bagus. Pergi kerja dengan motosikal. Kadang-kadang naik LRT.
Cadangan nikah tak dapat buat lagi tahun ni, maybe satu dua tahun lagi.
Persediaan masih dalam perancangan. Lepas nikah maybe sewa rumah flat dulu
sebab dalam proses nak loan kereta. Insya-Allah mampu kot."
Dengan jawapan temuduga yang tak berapa nak pass
macam ni, belum tentu kamu akan diterima walaupun kamu suka sama suka dengan si
anak. Tu contoh yang makan gaji. Kalau yang tak ada kerja langsung camana?
Di mata para ibu bapa gadis, mereka nakkan yang
terbaik untuk anak-anak mereka. Bila kamu jadi ibu bapa kelak, kamu juga nak
pilih menantu yang terbaik. Takkan nak yang cikai-cikai, cukup-cukup makan je.
Secara logiknya begitu.
Sebab tidak ramai ibu bapa yang betul-betul Islamik, yang betul2 memikirkan soal tanggungjawab dari segi Islam bagi anak mereka pada masa kini. Kebanyakkan mereka ikut logik dan rasa tanggungjawab penuh sebagai ibu bapa sahaja.
Sukar untuk mencari ibu bapa yang kata,
"Tak kisahlah kamu kerja apa, kerja kat mana.
Tak perlu keluarkan kos banyak-banyak. Cukuplah dengan apa yang kamu ada. Yang
penting, kamu suka anak kami, ikhlas nak buat isteri dan kami sedia terima kamu
sepenuhnya dengan seluas-luasnya hati kami. Kami alu-alukan kamu jadi keluarga
kami. Welcome aboard to our big family." (senyum sampai telinga sambut
kita)
Ada. Tapi susah. Ini realiti kehidupan modern sekarang. Tambah-tambah anak orang yang kamu nak itu berada dalam kategori
orang berada atau kaya.
Berterus-terang dengan ketidakmampuan diri adalah
cara yang terbaik. Andai ibu-bapa si gadis tidak berkenan dengan kita, tidak
suka dengan kerja kita yang tidak menjamin kehidupan anak mereka, maka jalan
terbaik adalah undur diri saja.
Bukan kerana tidak berusaha untuk dapatkan kerja
yang lebih baik, tapi bukan senang juga nak dapat kerja yang bagus dengan
ekonomi yang tidak begitu baik dewasa ini. Apabila ibu-bapa gadis terlalu inginkan yang
terbaik, andainya ia terlalu membebankan kamu untuk capai sebagaimana demand
mereka. Maka, sila undur diri saja.
Jika mereka mahukan menantu yang terbaik. Kita juga
mahukan mertua yang terbaik. Mertua yang terbaik pada kita adalah yang memahami
erti hidup Islam sebenar. Tidak demand ke tahap yang kita tak mampu lakukan.
Nikah tidak rumit dalam Islam.
Lepaskan saja anak mereka, insya-Allah pandailah
orang tua mereka matchkan dengan calon yang lebih baik sebagaimana ciri-ciri
menantu impian mereka. Bukan enggan berusaha, tapi berjaya tu tak datang
sekelip mata.
Nasihat saya kepada semua lelaki, sila lengkapkan
diri betul-betul sebelum jalani temuduga keluarga. Biar bersedia segala sudut.
Jangan pergi dengan bekal kosong dan janji manis. Aturan Allah itu terbaik. Jaminan Dia lebih baik
dari jaminan kita. Bagi semua yang dah bergelar tunang atau isteri,
hargailah lelaki masing-masing. Kerana bina masjid suci, tak semudah kita
bermimpi.
Nukilan lelaki biasa yang belum pernah mengalami pengalaman yang sebenar.
Sekadar sebuah contengan nukilan jalanan untuk santapan semua.
Husband and wife dialogue...............

The husband : did you pray
‘Asr prayer ?
The wife : No !
The husband : Why ?
The wife : I just arrived from
work and I am a bit tired. I will go to sleep.
The husband : Ok ! Go pray
‘Asr and Maghrib before the Athan for ‘Isha prayer starts.
The next day, as usual, the
husband went on a business trip which would last for days.
He left the house. After few
hours he arrived
at his destination.
The wife waited for his call
as usual. He didn’t call or inbox her.
She phoned him but no reply!
She became irritated and worried about him.
She phoned again and again but
no reply !
After few hours he phoned her.
The wife : are you ok, honey
??
The husband : yes, ?? am ok.
Alhamdulillah.
The wife : when did you arrive
??
The husband : four hours now.
The wife : «surprised » : FOUR
hours !!! but you didn’t call !!!
The husband : I arrived a bit
tired and I went to sleep.
The wife : You could have
called me. It wouldn’t have taken more than few minutes. Didn’t you hear the phone
ringing ?
The husband : Yes, I did.
The wife : why didn’t you
answer the phone? Didn’t you care?
The husband : (silent)….. But
yesterday you also didn’t care when you heard the Adhan, a call from ALLAH…
The wife : (silent, and tears
in her eyes). You are right, honey. I am
sorry !
The husband : Ask ALLAH
subhanahu wa ta’ala to forgive you, not me! We can be together in Jannah..
InshaAllah
March 29, 2014
DAJJAL

Doa
Pelindung dari fitnah Dajjal
Doa
Agar Selamat Dari Fitnah Dajjal - Setiap umat muslim yang beriman pasti sudah
tau siapa itu dajjal, dan sifat-sifatnya. Dajjal ialah sosok yang akan turun ke
bumi pada hari kiamat dan akan menyebarkan fitnah, fitnah itu di antara nya
adalah :
- Dia mengaku sebagai tuhan
- Dia membawa surga dan neraka dan menyuruh umat muslim untuk memilih, dan bagi umat muslim yang kurang beriman maka umat muslim tersebut akan memilih surga dajjal.
Dari
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
"Dajjal
cacat mata kiri nya, kriting rambutnya, bersamanya surga dan neraka, nerakanya
adalah surga Allah dan Surga nya adalah Neraka Allah." (HR. Muslim, no.
2934)
- Membunuh seseorang kemudian menghidupkannya kembali (atas izin allah)
Rasulullah
SAW berkata :
“Keluarlah
pada hari itu seorang yang terbaik atau di antara orang terbaik. Dia berkata:
‘Aku bersaksi engkau adalah Dajjal yang telah disampaikan kepada kami oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dajjal berkata (kepada pengikutnya):
‘Apa pendapat kalian jika aku bunuh dia dan aku hidupkan kembali apakah kalian
masih ragu kepadaku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Maka Dajjal membunuhnya dan
menghidupkannya kembali….” (HR. Muslim no. 2938)
- Menggergaji seseorang kemudian membangkitkannya lagi (atas izin allah) Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Sai’d Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu (no. 2938) berkata:
Rasulullah
S.A.W menyampaikan kepada kami sebuah hadits yang panjang tentang Dajjal pada
suatu hari. Di antara apa yang beliau sampaikan adalah:
“Dajjal
datang dan dia diharamkan untuk masuk ke kota Madinah, maka dia berakhir di
daerah yang tanahnya bergaram yang berada di sekitar Madinah. Maka keluarlah
kepadanya seorang yang paling baik dan dia berkata: ‘Aku bersaksi bahwa kamu
adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah.’ Lalu Dajjal berkata
(kepada pengikutnya): ‘Bagaimana jika aku membunuh orang ini kemudian
menghidupkannya, apakah kalian masih tetap ragu tentang urusanku?’ Mereka berkata:
‘Tidak.’ Dia pun membunuhnya kemudian menghidupkannya. Orang yang baik itu
berkata setelah dihidupkan: ‘Demi Allah, aku semakin yakin tentang dirimu.’
Rasulullah berkata: ‘Lalu Dajjal ingin membunuhnya lagi namun dia tidak sanggup
melakukannya’.”
- Memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu turunlah hujan (atas izin allah)
Dari
An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata:
“…Dia
datang kepada satu kaum mendakwahi mereka. Merekapun beriman kepadanya, menerima
dakwahnya. Maka Dajjal memerintahkan langit untuk hujan dan memerintahkan bumi
untuk menumbuhkan tanaman, maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanama..” (HR.
Muslim no. 2937)
Adapun kaum yang tidak beriman dan tidak
menerima dakwah Dajjal, tidak ada sedikit harta pun tersisa pada mereka.
- Bersamanya air, sungai, dan gunung roti, api, dan air
Rasaulullah
SAW bersabda :
“…Sesungguhnya
bersama dia ada surga dan nerakanya, sungai dan air, serta gunung roti.
Sesungguhnya surganya Dajjal adalah neraka dan nerakanya Dajjal adalah surga.”
(HR. Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: sanadnya shahih. Lihat
Qishshatu Masihid Dajjal)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dia
berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang
Dajjal:
“Sungguh
Dajjal akan keluar dan bersamanya ada air dan api. Apa yang dilihat manusia air
sebenarnya adalah api yang membakar. Apa yang dilihat manusia api sesungguhnya
adalah air minum dingin yang segar. Barangsiapa di antara kalian yang
mendapatinya hendaknya memilih yang dilihatnya api, karena itu adalah air segar
yang baik.” (HR. Muslim no. 2935)
"Sejak
terciptanya manusia hingga datangnya Hari Kiamat, tak ada fitnah lebih besar
daripada fitnahnya Dajjal". (Misykat, hal. 472) Hadith Riwayat Muslim
“Aku
benar-benar akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Tidak ada seorang nabi
melainkan ia pernah memperingatkan kaumnya tentang masalah tersebut. Tetapi aku
akan mengatakan kepada kalian suatu ucapan yang belum pernah dikatakan oleh
seorang nabi pun sebelumku. Dia itu (Dajjal) cacat (sebelah matanya) sedangkan
Allah tidaklah cacat (sebelah mata)”.
(Sahih
Jami’ shogir 3495/ Al-Bany) Hadith Riwayat Bukhari
Siapa
dajjal itu tidak berapa penting untuk kita ketahui, tetapi kewajipan untuk
berlindung dari fitnah dajjal merupakan perkara yang amat penting buat kita.
Sebab itu dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w bersabda:
"Bila
seseorang selesai membaca tashahhud (akhir), hendaklah ia memohon perlindungan
kepada Allah empat perkara, iaitu: ' Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari
siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari
fitnah dajjal'. [Selanjutnya, hendaklah ia berdoa memohon kebaikan utk dirinya
sesuai kepentingannya]". (Hadith riwayat Muslim, Abu 'Awanah, Nasa'i dan
Ibnu jarud dalam al-muntaqa [27].)
Dalam
riwayat abu daud dan ahmad dengan sanad yang sahih, Nabi selalu membaca doa
tersebut dalam tasyahhudnya.
Lihatlah
betapa pentingnya untuk kita berlindung dari fitnah dajjal tersebut, Nabi s.a.w
seorang manusia yang secara mutlaknya mendapat lindungan dari Allah sendiri
selalu memohon perlindungan dari fitnah dajjal, sedangkan siapa kita di sisi
Allah.
Bahayanya
fitnah dajjal ialah, ia bukan sahaja mengelirukan orang awam yang rendah ilmu
dan imannya , tetapi jika di lihat sejarah, berapa ramai ulama' terkeliru
dengan dajjal ini, baik dajjal kiasan ataupun realiti. Fitnah dajjal amat
dasyat, boleh jadi seseorang yang awalnya Islam akan tersesat di akhir
hayatnya..kemungkinan akan murtad..
Nauzubillah.....
Dari
Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Jika salah seorang di antaramu telah
selesai membaca tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah
dari empat hal, dengan membaca:
Ruminya
: Alloohumma inni a'uuzu bika min 'azaabil qabri, wa min 'azaabi jahannam , wa
min fitnatil mahyaaa wal mamaati, wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal
Ertinya
: Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksaan kubur, dari siksaan neraka
jahanam, dari fitnah hidup dan mati dan dari fitnah dajjal.
Marilah
sama-sama kita amalkan..
March 23, 2014
SUNNAH NABI BERCINCIN...

LOGAM YANG DIBENARKAN UNTUK MEMBUAT CINCIN
EMAS
- Para ulama bersepakat mengatakan bahawa emas dibenarkan kepada wanita untuk memakainya, manakala bagi lelaki ianya adalah haram.
- Manakala untuk kanak-kanak yang belum baligh, para ulama Syafieyah di dalam pandangan muktamad di dalam mazhab berpendapat bahawa dibenarkan bagi mereka untuk memakai emas samaada kanak-kanak lelaki atau perempuan.
PERAK
- Para ulama bersepakat mengatakan bahawa cincin perak dibenarkan kepada wanita. Manakala bagi lelaki pula terdapat perincian oleh para ulama .
- Para ulama Hanafiyah mengatakan bahawa harus bagi lelaki memakai cincin perak. Ianya menjadi sunnah kepada para sultan, para qadhi dan yang seumpama dengannya. Manakala kepada selain sultan, qadhi dan yang seumpama dengannya terlebih afdhal bagi mereka tidak memakai cincin perak.
- Para ulama Malikiyah pula berpandangan bahawa memakai cincin perak bagi lelaki adalah harus dan jika dipakai dengan tujuan mengikut sunnah Baginda sallallahu alaihi wasallam hukumnya adalah sunnah dan haram memakainya dengan tujuan berbangga diri.
- Para ulama Syafieyah pula berpandangan bahawa disunatkan kepada sesiapa sahaja untuk memakai cincin perak bukan dikhususkan kepada sultan dan qadhi semata-mata.
- Para ulama Hanabilah berpandangan bahawa memakai cincin perak bagi lelaki adalah harus.
SELAIN DARIPADA EMAS & PERAK
- Para ulama Malikiyah ( dalam pandangan yang muktamad ) dan ulama Hanabilah berpandangan bahawa memakai cincin daripada besi, tembaga dan seumpama dengannya adalah makruh berdasarkan larangan Baginda sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis. Hukuman ini merangkumi lelaki dan wanita.
- Para ulama Malikiyah berpandangan bahawa mengambil cincin daripada kayu, kulit dan batu adalah harus bagi lelaki dan wanita. Manakala para ulama Hanabilah pula berpandangan diharuskan bagi lelaki dan wanita memakai cincin daripada zamrud, yaqut, jed dan lain-lain jenis batu.
- Para ulama Syafieyah pula mempunyai dua pandangan di dalam permasalahan ini. Sebahagian mengatakan bahawa hukumnya makruh memakai cincin selain emas dan perak. Manakala sebahagian lagi mengatakan tidak makruh. Al-Imam Nawawi rahimahullah berpandangan dengan mengatakan tidak makruh memakai cincin daripada selain emas dan perak . al-Imam Qalyubi di dalam Hasyiyahnya juga mengatakan bahawa tiada masalah untuk memakai cincin daripada tembaga , besi dan lain-lain.
- Para ulama Hanafiyah pula seperti al-Imam Ibn Abidin rahimahullah mengatakan bahawa dihalalkan bagi lelaki memakai cincin perak dan diharamkan memakai cincin emas, tembaga atau besi. Manakala mengambil cincin daripada batu adalah dibenarkan khususnya batu aqiq.
HUKUM BILANGAN CINCIN
- Para ulama Malikiyah mengatakan bahawa diharamkan bagi seseorang lelaki memakai lebih daripada satu cincin.
- Para ulama Syafieyah pula berpandangan bahawa dibenarkan untuk memakai 2 bentuk cincin perak dalam satu masa. Ini seperti yang disebutkan oleh al-Imam Jalaluddin al-Suyuti rahimahullah. Makruh hukumnya memakai lebih daripada 2 bentuk cincin. Al-Imam Isnawi rahimahullah juga berpandangan sedemikian dan kata al-Imam Khawarizmi di dalam al-Kafi : Makruh memakai kedua-dua cincin tersebut pada satu jari.
- Para ulama Hanabilah pula berpandangan bahawa dibenarkan bagi lelaki memakai dua cincin dan lebih selagi mana tidak keluar daripada adat setempat.
- Manakala para ulama Hanafiyah tidak pula kedapatan mereka mengeluarkan pandangan di dalam masalah ini.
BENTUK CINCIN RASULULLAH
- Cincin Baginda sallallahu alaihi wasallam ada dua jenis. Ada yang diukir perkataan “ Muhammad Rasulullah” dan ada yang diletakkan batu.
- Jenis batunya menjadi perbahasan para ulama, sebahagian mengatakan bahawa ianya adalah jenis aqiq dan al-Imam Jalaluddin al-Suyuthi mengatakan bahawa beliau melihat di dalam kitab Mufradat fi al-Tibb karangan Ibn al-Baithar bahawa jenis batu tersebut adalah zabarjad.
JARI YANG SUNNAH DILETAKKAN CINCIN
- Bagi wanita tiada tempat yang khusus diletakkan. Terpulang kepada mereka untuk memakai cincin dimana sahaja anggota. Samada di kesemua jari tangan atau jari kaki sekalipun. Ini kerana itu adalah perhiasan bagi mereka.
- Para ulama berbeza pandangan tentang kedudukan jari yang sunnah dipakaikan cincin bagi lelaki. Para ulama Hanafiyah mengatakan bahawa disunnahkan bagi lelaki untuk memakai cincin di jari kelingking sebelah kiri dan bukan pada jari lain walaupun kanan. Sebahagian daripada ulama Hanafiyah mengatakan bahawa diharuskan untuk memakai cincin pada jari kelingking kanan.
- Manakala al-Imam Malik radhiyallahu anhu, guru kepada al-Imam al-Syafie radhiyallahu anhu mengatakan bahawa disunnahkan memakai cincin di jari kelingking kiri dan beliau sendiri memakai cincin di jari kelingking kiri. Al-Imam Ibn al-Arabi al-Maliki mengatakan bahawa sunnah memakai cincin pada jari kelingking kiri dan makruh memakainya pada kelingking kanan.
- Para ulama Syafieyah mengatakan bahawa harus untuk dipakai cincin pada jari kelingking kanan atau kiri sekalipun. Tetapi pandangan yang masyhur ialah memakainya pada jari kelingking kanan kerana ianya merupakan tempat untuk berhias. Manakala memakai cincin pada jari manis adalah dibenarkan. Jari tengah, telunjuk dan ibu jari adalah dilarang bagi kaum lelaki untuk meletakkan cincin padanya. Ini kerana terdapat larangan daripada Baginda sallallahu alaihi wasallam kepada Sayyiduna Ali radhiyallahu anhu untuk memakai cincin pada jari-jari tersebut.
- Para ulama Hanabilah pula berpandangan bahawa afdhal memakai cincin pada jari kelingking kiri. Mereka juga berpandangan bahawa dibenarkan untuk memakai cincin pada jari manis dan ibu jari. Manakala jari telunjuk dan jari tengah adalah dilarang untuk meletakkan cincin padanya kerana terdapat larangan yang jelas daripada Baginda sallallahu alaihi wasallam.
Sama ada bagi kaum lelaki mahupun wanita, dibolehkan
bagi mereka memakai cincin pada jari manis, kelingking ataupun ibu jari. Adapun
jari telunjuk dan tengah, keduanya adalah dilarang.
Hal dinyatakan dalam sebuah athar daripada Ali bin
Abi Talib radhiyallahu ‘anhu, “Bahawasnya (Rasulullah) melarangku memakai
cincin pada jari ini dan ini – seraya mengisyaratkan kepada jari telunjuk dan
jari tengah.” (Sahih. Riwayat Al-Nasa’i)
SUNNAH MEMAKAI CINCIN PADA TANGAN KANAN ATAU KIRI
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah memakai cincin pada kedua-dua tangannya
sebagaimana dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Bahawasanya
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah memakai cincin perak pada tangan
kanannya di mana kepala cincinnya daripada Habsyah; dan Baginda menjadikan
kepala cincinnya pada bahagian dalam telapak tangannya.” ( Bukhari dan Muslim)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu turut
meriwayatkan, “Bahawasanya Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam memakai cincin pada
jari ini – sambil mengisyarat pada jari manis tangan kirinya.” (Muslim)
Berdasarkan kedua-dua riwayat yang sahih ini dapat
disimpulkan bahawa sama ada cincin itu diletakkan pada tangan kanan mahupun
tangan kiri, kedua-duanya adalah Sunnah kerana ia telah dilakukan oleh
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. (Al-Syarah Al-Mumti’ oleh Syeikh Ibnu
Uthaimin, 6/116)
KEPALA CINCIN DILETAK PADA BAHAGIAN DALAM TELAPAK
TANGAN
Sunnahnya adalah mengarahkan kepala cincin ke arah
dalam telapak tangan sebagaimana dalam hadis riwayat Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu, “Bahawasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam
menjadikan kepala cincinnya pada bahagian dalam telapak tangannya.” (Bukhari
dan Muslim)
LARANGAN MEMAKAI CINCIN PERKAHWINAN
Perlu dijelaskan bahawa amalan memakai cincin
perkahwinan bukan daripada ajaran Islam. Ia tidak dilakukan oleh Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wasallam, para Sahabat radhiyallahu ‘anhu mahupun generasi
awal Islam. Sebaliknya ia adalah adat tradisi yang diwarisi daripada orang
Kristian dalam urusan perkahwinan mereka.
Amalan menyarung cincin perkahwinan adalah adat
Kristian sejak turun-temurun di mana si pengantin lelaki akan meletakkan cincin
pada hujung ibu jari pengantin perempuan lalu berkata: “Dengan nama Bapa”.
Setelah itu dia akan memindahkan cincin ke hujung jari telunjuk dan berkata:
“Dengan nama Anak”. Selepas itu dia beralih ke jari tengah seraya berkata:
“Dengan nama Roh Al-Qudus”. Dan tatkala dia berkata “Amin” dia akan
menyarungkan cincin itu pada jari manis pengantin perempuan itu.
Syeikh Albani menukilkan kenyataan Angela Talbot,
editor Majalah Women yang berpusat di London dalam keluaran ke-19 pada 19 Mac
1960 di mana ketika menjawab soalan tentang mengapa cincin perkahwinan
diletakkan pada jari manis tangan kiri, Angela Talbot berkata: “Dikatakan
bahawa terdapat urat saraf yang berhubung secara terus daripada jari tersebut
ke jantung.” (Adaab Al-Zafaaf oleh Syeikh Albani, hlm. 212-214)
Syarak melarang keras Umat Islam meniru orang kafir
apatah lagi dalam urusan yang bersangkut-paut dengan kepercayaan keagamaan
mereka. Perbuatan seperti ini jelas boleh membawa kepada kufur wal iyazubillah.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengecam mereka yang meniru orang kafir
dalam sabda Baginda, “Barangsiapa merenyerupai sesebuah kaum maka dia tergolong
dalam kaum itu” (Hasan. Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud).
Oleh itu, jelas memakai cincin yang khas buat
pertunangan atau perkahwinan adalah haram kerana ia menyerupai amalan orang
Kristian. Lebih sulit lagi sekiranya cincin itu dibuat daripada emas. Dalam hal
ini dua kesalahan telah dilakukan. Pertama, menyerupai orang kafir. Kedua,
memakai cincin emas. Harus diingat, bukan sahaja kaum lelaki tetapi wanita juga
turut dilarang daripada memakai cincin emas sebagaimana dalam hadis-hadis yang
telah disebutkan dalam Perkara ke-2 dalam tulisan ini.
وَصلَّى الله عَلى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّم
Sumber :
- Al-Hawi lil Fatawi oleh al-Imam Jalaluddin al-Suyuthi RA, jilid 1 m/s 75-76 cetakan Darul Kutub Ilmiyah tahun 1982
- Ustaz Nazrul Nasir
- Ustaz Idris Sulaiman
March 22, 2014
Antara Sunnah Rasulullah SAW yang dilupakan

Sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari
Rasulullah SAW baik perkataan, perbuatan, ataupun
persetujuan. Sunnah juga berarti sesuatu yang pelakunya mendapat pahala dan
tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya. Di antara perbuatan sunnah yang
jarang dilakukan kaum muslimin adalah sebagai berikut:
1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri
Saat Melepasnya
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian memakai sandal maka
dahulukanlah kaki kanan, dan jika melepaskannya, maka dahulukanlah kaki kiri.
Jika memakainya maka hendaklah memakai keduanya atau tidak memakai keduanya
sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu
Diriwayatkan dari Tsauban RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Istiqamahlah (konsistenlah) kalian
semua (dalam menjalankan perintah Allah) dan kalian tidak akan pernah dapat
menghitung pahala yang akan Allah berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-baik
perbuatan adalah shalat, dan tidak ada yang selalu memelihara wudhunya kecuali
seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan Kayu Siwak)
Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siwak dapat membersihkan mulut dan
sarana untuk mendapatkan ridha Allah.” (HR. Ahmad dan An-Nasa`i) Rasulullah SAW juga bersabda,
“Andaikata tidak memberatkan umatku niscaya aku memerintahkan mereka untuk bersiwak
setiap kali hendak solat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Bersiwak disunnahkan setiap saat, tetapi lebih sunnah lagi
saat hendak berwudhu, solat, membaca Al-Qur`an, saat bau mulut berubah, baik
saat berpuasa ataupun tidak, pagi maupun petang, saat bangun tidur, dan hendak
memasuki rumah. Bersiwak merupakan perbuatan sunnah yang hampir tidak pernah
dilakukan oleh banyak orang, kecuali yang mendapatkan rahmat dari Allah. Untuk
itu, wahai saudaraku, belilah kayu siwak untuk dirimu dan keluargamu sehingga
kalian bisa menghidupkan sunnah ini kembali dan niscaya kalian akan mendapatkan
pahala yang sangat besar.
4. Solat Istikharah
Diriwayatkan dari Jabir RA bahwa ia berkata,
“Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita tata cara
solat istikharah untuk segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan
surat-surat Al-Qur`an kepada kami.” (HR. Al-Bukhari) Oleh kerana itu, lakukanlah solat ini dan berdoalah dengan
doa yang sudah lazim diketahui dalam solat istikharah.
5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu
Cidukan Telapak Tangan Ketika Berwudhu
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhu, bahwa
Rasulullah SAW berkumur-kumur dan menghirup air dengan
hidung secara bersamaan dari satu tadahan air dan itu dilakukan sebanyak tiga
kali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan Tidur Dengan Posisi Miring Ke
Kanan
Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu hendak tidur, maka
berwudhulah seperti hendak solat, kemudian tidurlah dengan posisi miring ke
kanan dan bacalah, ‘Ya Allah, Aku pasrahkan jiwa ragaku kepada-Mu, aku serahkan
semua urusanku kepada-Mu, aku lindungkan punggungku kepada-Mu, karena cinta
sekaligus takut kepada-Mu, tiada tempat berlindung mencari keselamatan dari
(murka)-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan
dengan nabi yang Engkau utus’. Jika engkau meninggal, maka engkau meninggal
dalam keadaan fitrah. Dan usahakanlah doa ini sebagai akhir perkataanmu.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
7. Berbuka Puasa Dengan Makanan Ringan
Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia
berkata, “Rasulullah SAW berbuka puasa sebelum solat maghrib dengan beberapa kurma basah. Jika tidak ada maka dengan beberapa kurma
kering. Jika tidak ada, maka beliau hanya meminum beberapa teguk air.” (HR.
Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
8. Sujud Syukur Saat Mendapatkan Nikmat Atau Terhindar Dari
Bencana
Sujud ini hanya sekali dan tidak terikat oleh waktu.
Diriwayatkan dari Abu Bakrah RA ia berkata, “Jika Rasulullah SAW mendapatkan sesuatu yang menyenangkan atau
disampaikan kabar gembira maka beliau langsung sujud dalam rangka bersyukur
kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
9. Tidak Begadang Dan Segera Tidur Selesai Shalat Isya`
Hal ini berlaku jika tidak ada keperluan saat begadang.
Tetapi jika ada keperluan, seperti belajar, mengobati orang sakit dan lain-lain
maka itu diperbolehkan. Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak suka tidur sebelum shalat isya` dan tidak
suka begadang setelah shalat isya`.
10. Mengikuti Bacaan Muadzin
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA bahwa
dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian
mendengar azan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin, kemudian
berselawatlah kepadaku. Barangsiapa yang berselawat kepadaku, maka Allah akan
berselawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintakan wasilah untukku, karena
wasilah merupakan tempat di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba
Allah dan aku berharap agar akulah yang mendapatkannya. Barangsiapa yang
memintakan wasilah untukku maka ia akan mendapatkan syafaatku (di akhirat
kelak).” (HR. Muslim)
11. Berlumba-Lumba Untuk Mengumandangkan Azan, Bersegera
Menuju Solat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Andai kata umat manusia
mengetahui pahala di balik azan dan berdiri pada shaf pertama kemudian mereka
tidak mendapatkan bagian kecuali harus mengadakan undian terlebih dahulu
niscaya mereka membuat undian itu. Andaikata mereka mengetahui pahala bergegas
menuju masjid untuk melakukan solat, nescaya mereka akan berlumba-lumba
melakukannya. Andaikata mereka mengetahui pahala solat isyak dan subuh secara
berjamaah, nescaya mereka datang meskipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
12. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertemu
Jika tidak diizinkan dari tuan rumah, maka anda harus pergi. Allah Ta’ala berfirman, “Dan
jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih
suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur:
28) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Adab
meminta izin itu hanya tiga kali, jika tidak diizinkan maka seseorang harus
pulang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
13. Mengibaskan Cadar Saat Hendak Tidur
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda,“Jika hendak tidur,
maka hendaknya dia mengambil hujung cadarnya, lalu mengibaskannya dengan
membaca basmallah, kerana dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di atas
katilnya. Jika dia hendak merebahkan tubuhnya, maka hendaknya dia mengambil
posisi tidur miring ke kanan dan membaca, “Maha Suci Engkau, ya Allah, Rabbku,
dengan-Mu aku merebahkan tubuhku, dan dengan-Mu pula aku mengangkatnya. Jika
Engkau menahan nyawaku, maka ampunkanlah ia, dan jika Engkau melepasnya, maka
lindungilah ia dengan perlindungan-Mu kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR.
Muslim)
14. Meruqyah Diri Dan Keluarga
Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa ia berkata,
“Nabi Muhammad SAW senantiasa meruqyah dirinya dengan
doa-doa perlindungan ketika sakit, iaitu pada sakit yang menyebabkan wafatnya
beliau. Saat beliau kritis, akulah yang meruqyah beliau dengan doa tersebut,
lalu aku mengusapkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri, karena tangan itu
penuh berkah.” (HR. Al-Bukhari)
15. Berdoa Saat Memakai Pakaian Baru
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA ia
berkata, “Rasulullah SAW jika mengenakan pakaian baru,
maka beliau menamai pakaian itu dengan namanya, baik itu baju, surban,
selendang ataupun jubah, kemudian beliau membaca, “Ya Allah, hanya milik-Mu
semua pujian itu, Engkau telah memberiku pakaian, maka aku mohon kepada-Mu
kebaikannya dan kebaikan tujuannya dibuat, dan aku berlindung kepada-Mu dari
keburukannya dan keburukan tujuannya dibuat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
16. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk Anak
Kecil
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru RA, ia
menceritakan, ”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW ‘Apa ciri keislaman seseorang yang paling baik?’Rasulullah SAW menjawab, ‘Kamu memberikan makanan (kepada orang
yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang
yang tidak kamu kenal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Anas RA bahwa ia
menuturkan, “Rasulullah SAW berjalan melewati kumpulan
anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka semua.” (HR. Muslim)
17. Berwudhu Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub)
Diriwayatkan dari Aisyah RA, “Jika Rasulullah SAW ingin mandi besar, maka beliau membasuh tangannya
terlebih dahulu, lalu berwudhu seperti hendak shalat, kemudian memasukkan
jemarinya ke air dan membasuh rambutnya dengan air. Selanjutnya Rasulullah SAW menuangkan air tiga ciduk ke kepalanya dengan
menggunakan tangannya, lalu mengguyur semua bagian tubuhnya.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
18. Membaca ‘Amin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Jika imam membaca “Amin”
maka kalian juga harus membaca “Amin” kerana barangsiapa yang bacaan Amin-nya
bersamaan dengan bacaan malaikat maka diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kaum salafus-shalih
mengeraskan bacaan “Amin” sehingga masjid bergemuruh.
19. Mengeraskan Suara Saat Membaca Zikir Setelah Solat
Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan, “Ibnu Abbas RA mengatakan, mengeraskan suara dalam berzikir setelah
orang-orang selesai melaksanakan solat wajib telah ada sejak zaman RasulullahSAW. Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku mengetahui
orang-orang telah selesai melaksanakan solat karena mendengar zikir mereka.”
(HR. Al-Bukhari)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Disunnahkan
mengeraskan suara saat membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah solat.”
Sunnah ini tidak dilakukan di banyak masjid sehingga tidak
dapat dibedakan apakah imam sudah salam atau belum, karena suasananya sepi dan
hening. Caranya adalah imam dan makmum mengeraskan bacaan tasbih (Subhanallah),
tahmid (Alhamdulillah) dan takbir (Allahu Akbar) secara sendiri-sendiri, bukan
satu jemaah dan satu suara. Adapun mengeraskan suara ketika berzikir dengan
satu jemaah, satu suara dan dipimpin oleh imam maka dalam hal ini terdapat
perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan sunnah secara mutlak,
ada yang memandang sunnah dengan syarat-syarat tertentu dan ada pula yang
mengatakan bahwa zikir berjamaah adalah perbuatan bid’ah.
20. Membuat Pembatas Saat Sedang Solat Fardhu Atau Solat Sunnah
Diriwayatkan dari Abu Said al-Kudri RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Ketika kalian hendak solat,
maka buatlah pembatas di depannya dan majulah sedikit, dan janganlah membiarkan
seseorang lewat di depannya. Jika ada orang yang sengaja lewat di depannya,
maka hendaknya diamenghalanginya karena orang itu adalah setan.” (HR. Abu dawud
dan Ibnu Majah)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, ia
berkata, “Rasulullah SAW memacakkan tongkat di depannya, lalu solat di belakang
tongkat itu.” (HR. Al-Bukhari)
Sunnah ini sering diabaikan, terutama saat melakukan solat sunnah.
Wahai saudaraku! Jadilah seperti orang yang diungkapkan oleh
Abdurrahman bin Mahdi, “Aku mendengar Sufyan berkata, ‘Tiada satu hadits pun
yang sampai kepadaku kecuali aku mengamalkannya meskipun hanya sekali.”
Muslim bin Yasar mengatakan, “Aku pernah melakukan solat dengan memakai sandal padahal solat tanpa sandal sangat mudah dilakukan. Aku
melakukan itu hanya ingin menjalankan sunnah Rasul Shallallahu Alaihi wa
Sallam.”
Ibnu Rajab menuturkan, “Orang yang beramal sesuai ajaran
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, meskipun amal itu sangat kecil, maka
itu akan lebih baik daripada orang yang beramal tidak sesuai dengan ajaran
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meskipun dia sangat
bersungguh-sungguh.”
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti sunnah
rasul-Mu dan mengikuti jejaknya. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan kedua orang
tua kami bersamanya di syurga-Mu wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.
March 21, 2014
Doa Pelindung daripada malapetaka { Doa Abu Darda Radiallahu Anhu (RA) }

Doa Pelindung daripada malapetaka { Doa Abu Darda Radiallahu Anhu (RA) }
Subscribe to:
Posts (Atom)


